Sabtu, 25 Juni 2011

Nilai Resistor Pada LED

LED merupakan salah satu jenis dioda maka LED memiliki 2 kutub yaitu anoda dan katoda. Dalam hal ini LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari anoda menuju katoda. Pemasangan kutub LED tidak boleh terebalik karena apabila terbalik kutubnya maka LED tersebut tidak akan menyala. Led memiliki karakteristik berbeda-beda menurut warna yang dihasilkan. Semakin tinggi arus yang mengalir pada led maka semakin terang pula cahaya yang dihasilkan, namun perlu diperhatikan bahwa besarnya arus yang diperbolehkan 10mA-20mA dan pada tegangan 1,6V - 3,5 V menurut karakter warna yang dihasilkan. Apabila arus yang mengalir lebih dari 20mA maka led akan terbakar. Untuk menjaga agar LED tidak terbakar perlu kita gunakan resistor sebagai penghambat arus.

Tegangan kerja LED berdasarkan warnanya:
  • Infra merah : 1,6 V
  • Merah : 1,8 V – 2,1 V
  • Oranye : 2,2 V
  • Kuning : 2,4 V
  • Hijau : 2,6 V
  • Biru : 3,0 V – 3,5 V
  • Putih : 3,0 – 3,6 V
  • Ultraviolet : 3,5 V

Berdasarkan Hukum Ohm, V=I.R
Apabila kita mencari nilai resistor, maka :
R = V/I
R =(Vs-Vd) / I

keterangan:
Vs = tegangan sumber.
Vd = tegangan kerja led (gunakan daftar tegangan kerja LED di atas).
I = arus led ( 10mA-20ma)

Contoh:
LED warna merah (tegangan kerja 1,8 Volt) yang akan dinyalakan menggunakan sumber tegangan:12Volt, berapa nilai resistor yang di butuhkan?

jawaban:
tegangan yang digunakan  12V, tegangan kerja LED warna merah 1,8V, dan Arus LED 20mA = 0,02Ampere.

R= (Vs-Vd) / I
R=(12-1,8) / 0,02 = 510 ohm.

Untuk warna LED yang lain bisa anda coba cari sendiri menggunakan rumus di atas, yang perlu anda perhatikan adalah tegangan kerja dari berdasarkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar